Menjalani Hubungan Jarak Jauh Dengan Anak

Home / Artikel / Menjalani Hubungan Jarak Jauh Dengan Anak

Sebagai orang tua yang selalu berupaya memberikan pengasuhan terbaik, tentunya kita ingin selalu menyediakan waktu berkualitas bagi ank, merasakan setiap senti pertumbuhan mereka, mendengar gelak tawa mereka, dan memberikan rangkulan untuk setiap kesedihan yang mereka rasakan. Namun kondisi tidak selalu menijinkan, terkadang tuntutan pekerjaan membuat ayah atau ibu terpaksa membentangkan jarak membatasi pelukan hangat untuk sang anak. Ya, hubungan jarak jauh, dengan kondisi ayah atau ibu bekerja diluar, atau bekerja sepanjang hari terkadang membuat masalah timbul di tengah keluarga.

Jika kondisi tersebut terjadi, orang tua terpaksa merelakan pemeliharaan sementaraa anak mereka pada kakek dan nenek, baby sitter, atau daycare yang terpercaya. Namun itu tidak begitu saja membawa kelegaan. Hal yang menjadi kekhawatiran ayah dan bunga ketika mendelegasikan tugas pengasuhan kepada pihak lain yakni orang lain belum tentu dapat memberikan pengasuhan terbaik, anak tidak akan merasakan kedekatan dengan orang tua, ataupun pada akhirnya perilaku anak berkembang jauh dari harapan(tidak sesuai dengan norma yang ditetapkan oleh ayah atau ibu).

Jika benar demikian, orang tua sebaiknya menyadari bahwa mereka tidak bisa menuntut kesempurnaan dari orang lain. Berbaik sangkalah dan meyakini bahwa dimana pun anak berada, Tuhanlah sang Maha Pemelihara.

Perhatikan beberapa hal saat menyerahkan pengasuhan ke pihak lain. Jika anak terpaksa diasuh oleh kakek dan nenek, orang tua perlu mengkomunikasikan aturan yang telah mereka sepakati bagi anak, ini dmaksudkan agar anak tetap mudah dikondisikan dan perkembangannya tidak terpengaruh pemanjaan yang diberikan oleh kakek dan neneknya. Sementara jika diasuh oleh baby sitter atau daycare, biaya yang perlu dikeluarkan juga patut menjadi perhatian.

Lalu selama anak diasuh oleh orang lain atau diasuh oleh salah satu orang tua saja, yakini bahwa sentuhan orang tua itu tetaplah penting, upayakan sentuhan fisik dengan bertamu langsung meski diwaktu yang terbatas, misalnya beberapa jam dalam seminggu dan mengisinya dengan aktivitas bersama. Mulai dari mengobrol ringan, makan bersama maupun jala-jalan ditempat yang terjangkau dari segi waktu, tenaga, dan biaya.

Meskipun dalam kondisi ayah yang sedang berjauhan, komunikasi ayah terhadap keluarga tetap harus produktif. Ayah juga diharapkan tetap menjadi figur teladan yang baik di tengah anggota keluarga. Jika menilik sejarah, kisah nabi ibrahim alaihis salam dapat menjadi pelajaran. Nabi ibrahim as demi tugas dakwah meninggalkan putranya, ismail, ketika baru saja lahir. Ketika itu istri beliau, bunda hajar, ditinggalkan bersama bayinya di padang pasir yang tandus, bahkan sumber air pun tidak ada. Tapi karena keimanan yang kuat dan pemahaman yang baik tentang peran masing-masing sebagai istri dan suami, Nabi ibrahim dan istrinya mampu membentuk Nabi Ismail as menjadi pribadi yang baik.

Rasa empati untuk dapat saling memahami dibutuhkan oleh Ayah dan Ibu dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan tersebut. Lingkungan yang kondusif dalam menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak pun patut dipertimbangkan. Hubungan jarak jauh tentu berdampak pada kondisi psikologos anak. Jika misalnya sang Ayah berjauhan dengan keluarga, kedua orang tua sebaiknya dapat mengantisipasi ini. Ayah memaksimalkan perannya, sementara ibu bersabar, serta ikhlas juga jujur dengan perasaannya agar hati lapang dan tidak membawa pengaruh buruk bagi psikis anak yang dirawatnya.

Saat melewatkan quality time bersama anak, curahkan 100% perhatian pada aktivitas tersebut, fokus meski terkesan sepele, agar anak benar-benar merasakan keberadaan orang tua bersama mereka, tidak hanya disamping mereka.

Untuk lebih menambah kepekaan mengenai pengasuhan yang tepat, kedua orang tua sebaiknya kompak mempelajari ilmu parenting dan berusaha menerapkannya. Jangan biarkan anak terkepung dengan pengaruh negatif pertemanan maupun media tanpa dibekali dengan pendidikan yang tepat untuk membentengi mereka.

Selalu berdoa agar diberikan kekuatan dalam menjaga dan mendidik anak, petunjuk untuk membimbing mereka menjadi anak cerdas, shalih, dan bermanfaat bagi sesama. Yakinlah bahwa Allah SWT tidak pernah salah menitipkan anugerah berupa anak kepada hamba-hambaNya. Selalu semangat menuju orang tua yang shalih ! Aamiin. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *