Menangislah Anakku

Home / Artikel / Menangislah Anakku
Bermain Sambil Belajar
Bermain Sambil Belajar

Pertama kali yang dilakukan seorang bayi ketika lahir ke dunia adalah menangis. Bila bayi tak kunjung menangis saat keluar dari rahim ibunya, maka berbagai upaya dilakukan agar ia mengeluarkan tangisannya. Sehingga tangisan pertama seorang bayi amatlah dinanti-nanti semua orang.

Namun, seiring berjalannya waktu, tangisan bayi menjadi hal yang dipusingkan oleh orang dewasa, terutama orang tua yang setiap hari mendampingi bayi tersebut. Kalau bayi merasa lapar, dia menangis, kalau haus, juga menangis, mengantuk pun menangis lagi, merasa sakit, merasa takut, atau merasa bosan maka yang dilakukan bayi hanya menangis. Wajarlah bila bayi hanya bisa menangis, karena ia bukanlah orang dewasa yang mampu mengekspresikan perasaan dan keinginan dengan kosakata yang jelas. Bayi baru belajar menangis untuk bisa berkomunikasi dengan orang dewasa. Karena, meskipun bayi sudah menunjukkan tanda-tanda keinginannya, belum tentu orang dewasa memahami tanda-tanda yang telah diberikan oleh bayi tersebut. Maka dari itu menangis menjadi cara yang ‘ampuh’ untuk diperhatikan oleh orang dewasa.

Semakin bertambah usia, bayi memasuki usia toddler/balita. Ia mulai menguasai perbendaharaan kata. Tapi tetap saja karena belum terampil mengekspresikan emosi ataupun keinginan dengan kata-kata yang jelas, lagi-lagi yang ia lakukan adalah menangis agar keinginannya tercapai. Kita menyebutnya dengan istilah ‘rewel’. Kadangkala balita yang baru bangun tidur akan menangis, entah karena tak ada ibu disampingnya saat ia bangun padahal saat tidur bersama ibu, atau karena mengompol, mimpi buruk, merasa¬† sakit, dan lain sebagainya. Saat hendak tidurpun, ia kadang rewel dan salah tingkah. Apalagi ketika harus ditinggalkan oleh ibunya saat harus berpisah sementara karena ada keperluan seperti bekerja, atau urusan lain yang tidak bisa mengajak anak.

Bermain sambil Belajar
Bermain sambil Belajar

Terkhusus bagi balita yang memasuki dunia pra-sekolah atau daycare. Biasanya ia berada di rumah bersama ibu atau pengasuh kemudian karena ibu bekerja setiap hari dan/atau pengasuh pun tak lagi bisa membantu dirumah, maka bila ibu akan mendaftarkan balitanya untuk ke daycare, maka bersiaplah dengan tangisan buah hati anda. Pada masa transisi pengasuhan dari rumah menuju daycare, tak jarang anak mengekspresikan perasaanya dengan tangisan. Mungkin balita anda merasa asing dengan suasana baru dab belum menerima perubahan itu. Tapi yang lebih membuat balitarewel saat berada di daycare adalah karena suasana hati ibu yang mungkin gelisah. Ada perasaan was-was dihati ibu, apalagi jika saat “salam perpisahan” diiringi dengan tangisan haru sang anak. Istilahnya ada kontak batin anytara ibu dengan anak.

Oleh karena itu, sebagai orang tua yang bijaksana, hendaknya ibu memiliki sikap yang tegas ketika tugas pengasuhan diserahkan kepada orang lain saat ibu bekerja. Berkomunikasi pada anak amat diperlukan untuk memahamkan masa adptasi ini. Mungkin ibu bisa melakukannya saat waktu-waktu emas ananda, misalnya saat dalam kondisi yang santai dan ceria, sesaat sebelum tidur sambil dibacakan cerita. Bicaralah dari hati ke hati, pahami juga bila anak belum bisa menerima keputusan ibu. Sambil terus diberikan pemahaman sesuai dengan usianya. Libatkan pula ayah dalam memahamkan kondisi ini kepada anak. Buatlah kesepakatan agar setiap anggota keluarga dapat bekerja sama untuk mencapai keberhasilan balita anda yang akan belajar dan bermain di daycare.

Jika anak masih sering menangis saat masa adapaasi di daycare, janganlah kita mengabaikan perasaannya. Bukankah kita juga sebagai manusia dewasa tak ingin diabaikan perasaannya oleh orang lain?apalagi jika seorang istri/suami diabaikan perasaannya oleh pasangan. Hargai tangisan anak anda. Terimalah kegelisahannya, kemudian arahkan bagaimana sikap yang harus dimiliki oleh anak. Ada salah satu orang tua di daycare yang memiliki slogan di pagi hari seperti “ayah kerja, ibu kerja, dan mas (kakak) sekolah, aku di daycare”. ibu/ayah pun harus memiliki sikap yang tegas terhadap anak, tetap tersenyum saat meninggalkan anak di daycare dan meyakinkan pada anak bahwa ayah/ibu akan menjemput saat pulang kerja nanti. Berikanlah reward(hadiah) seperti pelukan atau kata-kata penghargaan setiap anak selesai melalui hari-harinya di daycare. Sebagai contoh, ibu/ayah bisa mengatakan,”anak mama hebat, terima kasih sudah pintar bermain di daycare”. Sebisa mungkin hindari pertanyaan yang negatif, seperti ‘tadi nangis nggak?’ atau ‘anak mama kenapa nangis terus?’. Berikan selalu kata-kata positif yang membangun karakter anak menjadi mandiri dan pemberani, juga tetap mencintai keluarga di rumah serta ‘keluarga’ di daycare.

Seperti hujan yang pasti akan berhenti dan melukiskan pelangi, maka tetesan air mata balita anda pun akan ada batasnya dan akan berganti dengan keceriaan serta kemandirian yang membanggakan orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *